Literacy for the Future

PANCASILA DAN KRISIS LITERASI

Mengapa masa depan Pancasila bergantung pada kualitas manusia Indonesia

Meski telah berusia 80 tahun, pemahaman kita tentang Pancasila masih sering kabur. Pancasila lebih banyak dibicarakan sebagai ideologi negara daripada sebagai cita-cita manusia Indonesia. Akibatnya, semangat yang terkandung di dalamnya perlahan memudar.

Ada beberapa penyebab. Selama bertahun-tahun, Pancasila cenderung disakralkan dan dimonopoli tafsirnya. Pada saat yang sama, ia sering dipahami secara normatif melalui hukum, peraturan, dan kelembagaan negara. Pancasila akhirnya lebih sering hadir sebagai simbol, slogan, atau instrumen politik daripada sebagai sistem nilai yang hidup dalam diri manusia Indonesia.

Padahal, jika kita kembali kepada asal-usulnya, gambaran yang muncul justru berbeda.

Dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, Soekarno menjelaskan bahwa Pancasila digali dari jiwa rakyat Indonesia. Pancasila bukanlah konsep yang diimpor dari luar, melainkan refleksi dari nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia sendiri. Karena itu, Pancasila pada dasarnya adalah cita-cita bersama manusia Indonesia.

Soekarno kembali menegaskan hal tersebut pada tahun 1954 ketika ia mengatakan bahwa dirinya menggali lima perasaan yang hidup dalam kalbu bangsa Indonesia. Lima perasaan itulah yang menjadi perekat persatuan bangsa.

Artinya, yang mempersatukan Indonesia bukan pertama-tama hukum atau lembaga negara, melainkan kesamaan nilai dan cita-cita manusianya.

Karena itu, membumikan Pancasila seharusnya tidak dimulai dari negara, melainkan dari manusia. Sentral dalam Pancasila adalah membangun manusia yang merdeka, berkeadilan, dan berpengetahuan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Tanpa pengetahuan, kemerdekaan mudah berubah menjadi ketergantungan. Tanpa pengetahuan, keadilan mudah berubah menjadi slogan.

Di sinilah tantangan besar Indonesia saat ini. Pengetahuan tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kebiasaan belajar, rasa ingin tahu, dan terutama kemampuan membaca. Karena itu, persoalan literasi sesungguhnya bukan sekadar persoalan pendidikan. Ia adalah persoalan peradaban.

Sayangnya, tantangan itulah yang masih kita hadapi. Hasil PISA selama lebih dua dekade terakhir menunjukkan sekitar 75-80 persen murid Indonesia belum mencapai tingkat kompetensi minimum dalam membaca, matematika, dan sains. Kurang dari 1 persen yang kompeten secara global dalam ketiga bidang tersebut.

Pada saat yang sama, rata-rata murid Indonesia hanya membaca sekitar satu hingga dua buku nonteks per tahun. Bandingkan dengan sekitar 20–25 buku per tahun di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sulit membangun masyarakat yang berpengetahuan ketika budaya membaca belum mengakar, apalagi berkembang menjadi budaya belajar sepanjang hayat.

Dampaknya terlihat hingga tingkat inovasi. Jumlah paten Indonesia per satu juta penduduk meningkat dari sekitar 0,7 pada tahun 2000 menjadi sekitar 6,8 pada tahun 2024. Kemajuan ini patut diapresiasi. Namun Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan banyak negara yang berhasil membangun ekonomi berbasis pengetahuan.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan semata-mata persoalan ekonomi atau teknologi. Yang lebih fundamental adalah persoalan kualitas modal manusia.

Di era yang semakin kompetitif, Indonesia membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi, berkompetisi, dan berinovasi. Karena itu, dua kualitas menjadi sangat penting: karakter yang tangguh dan semangat yang haus akan pengetahuan. Keduanya merupakan fondasi kemajuan bangsa.

Namun hingga kini, Pancasila masih sering tersandera oleh penekanan yang berlebihan pada aspek kenegaraan dan kelembagaan. Akibatnya, kita lebih sibuk membangun perangkatnya daripada menumbuhkan jiwanya.

Inilah gagasan utama yang kami tuangkan dalam buku Indonesian Dream: Revitalisasi dan Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Penerbit Buku Kompas, 2018). Dalam buku tersebut, kami menguraikan bahwa realisasi Pancasila sebagai cita-cita bangsa pada akhirnya bertumpu pada tiga modal utama: modal spiritualitas, modal sosial, dan modal manusia.

Jadi tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar membangun negara yang berlandaskan Pancasila. Tetapi membangun manusia Indonesia yang menjiwai Pancasila. Yaitu, manusia yang berpengetahuan dan berkarakter. Atau yang juga kami sebut: intelletually and morally capable!

(ELWIN TOBING, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains anak murid Indonesia).