Literacy for the Future

KRISIS HULU HILIR PENDIDIKAN

Membaca akar krisis pendidikan dan jalan transformasi Indonesia

Selama dua minggu di tanah air, kami memberikan pelatihan kepada 210 kepala sekolah SD Negeri Jakarta melalui program Leadership Workshop for School Principals: Building a School-Based Learning Ecosystem to Transform Student Literacy, Numeracy, Science Interest, and Character.

Fokus utamanya sederhana tetapi fundamental: menyamakan pemahaman tentang masalah terbesar pendidikan Indonesia.

Ibarat pohon, pendidikan Indonesia memiliki akar yang rapuh dan tanah yang masih gersang. Akibatnya, batangnya lemah dan buahnya minim. Dalam analogi ini, pendidikan dasar adalah akar dan tanahnya. 

Pendidikan menengah adalah batangnya. Sedangkan pendidikan tinggi adalah buah dan daun yang hasilnya langsung terlihat dalam ekonomi: tenaga kerja berkualitas, inovasi, spesialisasi, dan produktivitas. 

Masalahnya, ketiganya masih rapuh. Bahkan semakin ke atas, semakin rapuh.

Di tingkat SMP, kurang dari 1% murid mencapai kompetensi global dalam membaca, matematika, dan sains. Sekitar 75–80% hanya mencapai kompetensi sangat minimal. Di tingkat SMA, rata-rata Tes Kemampuan Akademik nasional untuk tiga bidang tersebut hanya sekitar 40 dari 100.

Kondisinya lebih serius lagi di pendidikan tinggi dan ekosistem inovasi. Jika menggunakan indikator paten, jumlah kumulatif paten Indonesia sepanjang 2000–2023 hanya sekitar 84 per satu juta penduduk. Korea Selatan mencapai sekitar 93 ribu—lebih dari 1.000 kali Indonesia. Padahal, dari paten biasanya lahir inovasi, industri baru, dan produktivitas ekonomi.

Jadi pertanyaannya: dari mana perbaikannya harus dimulai?

Pohon yang batangnya rapuh dan tidak berbuah tidak bisa diperbaiki hanya dengan memoles daunnya. Masalahnya ada pada akar, tanah, dan nutrisi. Dalam konteks pendidikan, masalah terbesar Indonesia ada di pendidikan dasar. Inilah hulunya. Tetapi justru bagian inilah yang sering diremehkan.

Padahal, lemahnya kemampuan membaca, matematika, dan sains di SMP dan SMA berakar pada lemahnya fondasi literasi, numerasi, dan minat sains sejak SD. Karena itu, kami mengembangkan LIFT (Literacy for the Future) dengan program NEXUS (Nurturing Excellence in Literacy, Numeracy, Science Interest, and Character) untuk murid SD Indonesia.

Pendidikan Indonesia saat ini sudah masuk kategori KKS: krisis, kronis, dan struktural. Karena itu, perbaikannya harus dimulai dari dua hal.

Pertama, semua pemangku kepentingan harus memiliki diagnosis yang sama terhadap masalah pendidikan Indonesia. Tanpa itu, solusi akan tercerai-berai dan hanya menyentuh gejala. Ibarat lima orang buta yang memegang bagian gajah yang berbeda, masing-masing akan menghasilkan kesimpulan berbeda tentang masalah yang sebenarnya.

Sama seperti diagnosis penyakit. Ada yang melihat gejalanya sebagai demam, nyeri perut, atau sesak napas. Padahal akar masalahnya bisa ginjal. Jika diagnosisnya keliru atau parsial, maka solusi yang diberikan pun tidak akan menyelesaikan masalah secara mendasar.

Pelatihan kepada para kepala sekolah tersebut adalah bagian dari upaya menyamakan pemahaman itu sekaligus menawarkan solusinya. Mereka adalah pemimpin pembelajaran di tingkat dasar—lapisan paling menentukan dalam membangun kualitas pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Kami targetkan menyasar 5000 kepala sekolah dalam dua tahun ini.

Kedua, karena masalahnya sudah bersifat KKS, maka solusinya tidak bisa biasa-biasa saja. Solusinya harus inovatif, transformatif, dan sekaligus efisien di tengah tekanan fiskal negara.

Itulah mengapa LIFT mengembangkan program NEXUS. Program ini membangun ekosistem pembelajaran berpusat pada murid dengan dukungan sekolah, keluarga, dan komunitas melalui penguatan budaya membaca, berpikir kritis, minat sains, serta K3S—Kolaborasi Sekolah, Siswa, dan Support System. NEXUS bukan sekadar menambah program, tetapi memperkuat fondasi pendidikan Indonesia yang paling lemah.

Memperbaiki pendidikan Indonesia tentu tidak mudah dan tidak bisa instan. Tetapi setiap transformasi besar selalu dimulai dari keberanian melihat masalah secara jujur dan membangun fondasi yang benar. 

Jika pendidikan dasar adalah hulu pendidikan, maka pendidikan tinggi adalah hilirnya. Memperbaiki hulu akan memperkuat hilir. Tetapi memperbaiki hulu juga sering kali harus dimulai dari memperbaiki hilir. Sulit berharap pendidikan dasar berubah besar bila pendidikan tingginya belum mampu melahirkan kualitas guru, riset, inovasi, dan kepemimpinan intelektual yang kuat.

Karena itu, seri kuliah umum yang kami lakukan di berbagai perguruan tinggi negeri seperti UI, ITB, ITS, dan lainnya merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bersama tentang masalah dan tantangan fundamental pendidikan Indonesia, khususnya di tingkat hilirnya. Sebab transformasi pendidikan dan ekonomi nasional tidak mungkin lahir dari diagnosa yang dangkal, parsial, atau justru keliru.

Masa depan Indonesia pada akhirnya sangat ditentukan oleh keberanian memperkuat hulu dan hilir pendidikannya. Now or never!

(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “ NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains anak murid Indonesia).