Pendidikan INA vs SIN
KESETARAAN TIDAK SETARA: SMP Singapura Belajar Lebih Banyak daripada SMA Indonesia?
Elwin Tobing, California, AS
Bukan tujuan saya masuk ke ring riuh politik ijazah. Tetapi kontroversi ijazah ini seharusnya membuka persoalan yang jauh lebih besar. Menjadi moment of truth bagi kita semua untuk memahami kenyataan fundamental: kualitas pendidikan Indonesia masih rapuh.
Anak-anak kita bisa bersekolah 12 tahun dan memperoleh ijazah SMA/SMK. Tetapi apakah mereka benar-benar memperoleh pembelajaran setara 12 tahun?
Lama bersekolah (years of schooling) hanya mengukur kuantitas. Yang lebih penting adalah years of learning: berapa banyak pengetahuan, kemampuan bernalar, dan keterampilan yang benar-benar diperoleh selama bersekolah. Inilah kualitas.
Bagaimana mengukurnya?
World Bank mengembangkan Learning-Adjusted Years of Schooling (LAYS) , yang menggabungkan lama sekolah dengan kualitas pembelajaran. Kualitas ini diukur melalui Harmonized Test Scores, yang menyetarakan hasil berbagai asesmen internasional ke dalam satu skala global.
Dengan LAYS, satu tahun bersekolah tidak otomatis berarti satu tahun belajar. Kita pun dapat membandingkan kualitas pembelajaran antarnegara.
Salah satu asesmen yang digunakan untuk pembobotan kualitas adalah PISA (Programme for International Student Assessment). Ini menguji kemampuan siswa usia 15 tahun dalam matematika, membaca, dan sains. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahaminya, bernalar, dan menggunakan pemahamannya untuk memecahkan masalah.
DUA DUNIA PENDIDIKAN
Selama 25 tahun terakhir, hasil PISA konsisten menempatkan Indonesia di kelompok terbawah dunia, sementara Singapura di jajaran teratas.
Lihat saja PISA 2025, yang diikuti 91 negara dan wilayah ekonomi. Indonesia berada di peringkat 73–78, sementara Singapura di peringkat 1–2.
Skor PISA 2025: Indonesia vs Singapura. Angka dalam kurung menunjukkan peringkat.
• Matematika: 364 (78) vs 563 (2)
• Membaca: 365 (74) vs 535 (1)
• Sains: 389 (73) vs 560 (2)
Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar selisih skor, melainkan kesenjangan kemampuan siswa.
Berikut persentase siswa di bawah kompetensi dasar. Yaitu, yang belum menguasai kemampuan minimum untuk memahami informasi dan memecahkan persoalan sehari-hari.
Indonesia vs Singapura
• Matematika: 83% vs 11%
• Membaca: 73% vs 14%
• Sains: 63% vs 10%
Artinya, 63%-83% (atau saya generalisasi 75%) murid Indonesia belum mencapai kompetensi dasar. Ini menjadi beban besar bagi sistem pendidikan dan masa depan bangsa. Di Singapura, angkanya hanya sekitar 10–14%.
Bagaimana dengan siswa berprestasi tertinggi, yang mampu bernalar dan memecahkan persoalan kompleks, mencerminkan kompetensi kelas dunia?
Indonesia vs Singapura
• Matematika: ≈0% vs 37%
• Membaca: ≈0% vs 22%
• Sains: ≈0% vs 26%
Di Indonesia, praktis nol persen (persentase sangat kecil) mencapai kompetensi tertinggi. Di Singapura, angkanya mencapai 22–37%.
Jadi, Indonesia menghadapi dua masalah sekaligus: mayoritas siswa belum menguasai kompetensi dasar, sementara hampir tidak ada yang mencapai tingkat tertinggi. Di Singapura, gambarannya justru terbalik.
Ini bukan lagi sekadar jurang, melainkan dua dunia pendidikan yang sangat berbeda. Lama sekolah bisa sama, tetapi pengetahuan dan kemampuan siswa bisa berbeda jauh.
Kualitas pembelajaran inilah yang diperhitungkan dalam LAYS. Selain PISA, pengukurannya menggunakan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), serta berbagai asesmen regional.
SMP DI SINGAPURA VS SMA DI INDONESIA
Dengan menggunakan LAYS (Data World Bank, 2024), Indonesia memiliki ekspektasi 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya 7,8 tahun pembelajaran efektif. Singapura memiliki 13,9 tahun sekolah, dengan 12,8 LAYS.
Selisih lama sekolah hanya 1,5 tahun. Tetapi setelah kualitas pembelajaran diperhitungkan, kesenjangannya mencapai 5 tahun.
Apa artinya?
Jika rasio LAYS diterapkan secara proporsional, sembilan tahun sekolah di Singapura menghasilkan sekitar 8,3 tahun pembelajaran efektif, sementara dua belas tahun sekolah di Indonesia hanya 7,5 tahun.
Artinya, secara rata-rata, lulusan setara SMP di Singapura sudah mengakumulasi lebih banyak pembelajaran daripada lulusan SMA di Indonesia.
Inilah persoalan besar pendidikan kita. Bangsa hanya bisa maju jika pendidikan membuat warganya mampu berpikir, bernalar, mencipta, dan memecahkan masalah. Bukan sekadar lebih lama bersekolah atau memiliki ijazah.
Persoalan ini telah berlangsung puluhan tahun. Inilah yang saya sebut krisis kronis struktural (KKS) pendidikan Indonesia. Tidak cukup diatasi dengan menambah program atau anggaran tanpa membenahi akar masalahnya.
Banyak yang berbicara tentang kepedulian terhadap pendidikan. Tetapi sedikit yang sungguh memahami kenyataan kualitas pembelajaran kita, apalagi memiliki solusi sistematis untuk mengubahnya.
Inilah yang mendorong kami mengembangkan LIFT (Literacy for the Future), gerakan transformasi pendidikan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Murid yang belajar menjadi pusatnya, membaca menjadi kegiatan utamanya, dan ekosistem pembelajaran menjadi penggerak perubahan. Ini sudah menjangkau puluhan ribu murid, lebih 500 masing-masing kepala sekolah, guru, dan orang tua, serta melibatkan komunitas dan pemerintah daerah/provinsi.
Tujuannya jelas: bukan sekadar membuat lebih banyak anak bersekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar belajar. Kuat literasinya, tajam daya nalarnya, dan kokoh karakternya.
Jangan kita lebih sibuk dengan hiruk pikuk politik kekuasaan, sementara pendidikan bangsa ini tetap carut marut. Sebelum semakin terlambat!
(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “ NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains peserta didik Indonesia).