INDONESIA’S QUANTITY TRAP
Ketika Kuantitas Dianggap Ukuran Kemajuan
Elwin Tobing, Amerika Serikat
Indonesia berisiko terjebak dalam Middle-Income Trap atau jebakan pendapatan menengah: gagal naik kelas menjadi negara maju. Indonesia Emas 2045 pun akan berubah jadi ilusi. Penyebabnya? Mental, budaya, dan orientasi kebijakan kita masih terjebak dalam kuantitas. Kita masih melihat pembangunan terutama dari jumlah fisik: bangunan, institusi, lapangan kerja, dan berbagai aspek fisik lainnya.
Orientasi pada kuantitas tidak salah. Pada tahap awal pembangunan, itu sangat dibutuhkan. Masalahnya, Indonesia belum banyak beranjak dari tahap itu. Kualitas belum menjadi prioritas. Padahal kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas yang dihasilkan pembangunannya.
Ambil lapangan kerja. Kita bicara angka pengangguran relatif rendah. Lapangan kerja diciptakan. Tetapi bagaimana kualitasnya? Dengan standar global untuk negara berpendapatan menengah atas, 64 persen penduduk Indonesia pada 2025 masih miskin. Artinya, ada kuantitas pekerjaan, tetapi belum bisa memberikan kualitas hidup setimpal, mengangkat penduduk dari kemiskinan.
Pendidikan tinggi sama telanjangnya. Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi, lebih banyak daripada jumlah perguruan tinggi pemberi gelar di Amerika Serikat. Dalam kuantitas, kita menang. Dalam kualitas, kita kalah seperti langit dan bumi.
Terlalu banyak perguruan tinggi kita pada dasarnya masih merupakan perpanjangan sekolah menengah. Pendidikan tinggi belum menjadi tempat lahirnya pemikiran, penelitian, dan pengetahuan baru yang mampu mengangkat ekonomi dan peradaban Indonesia. Mengapa? Karena pengembangannya masih berbasis kuantitas.
SEDIKITNYA TIGA PENYEBAB
Mengapa kita begitu terobsesi dengan kuantitas?
Pertama, kuantitas telah menjadi definisi keberhasilan itu sendiri. Semakin besar angkanya, semakin dianggap berhasil. Berapa yang dibangun, berapa yang disalurkan, berapa yang terserap. Kualitas datang belakangan.
When quantity is the only thought, quantity becomes an afterthought.
Kedua, kita lebih menghargai yang terlihat. Jalan, gedung, bandara, bendungan, kawasan industri bisa dilihat dan diresmikan. Kualitas manusia, produktivitas, kemampuan teknologi, kualitas institusi, budaya riset, itu semua seperti afterthought. Urusan belakangan.
Ketiga, kita cenderung berpikir parsial. Pembangunan akhirnya dilihat sebagai kumpulan objek, bukan sebagai sistem, apalagi ekosistem.
Membangun objek relatif mudah. Membangun sistem jauh lebih sulit. Sebuah kawasan industri bukan sekadar kumpulan pabrik. Itu membutuhkan tenaga kerja terampil, pemasok, teknologi, logistik, energi, pembiayaan, riset, kepastian hukum, dan pasar. Kalau sistemnya tidak ada, kita hanya mempunyai kawasan industri secara fisik.
Di sinilah perbedaan antara capacity dan capability menjadi penting. Capacity adalah apa yang kita punya. Capability adalah apa yang mampu kita lakukan untuk memproduksi kualitas.
Selama ini kita orientasinya cenderung hanya membangun capacity: Bangunan, institusi, dan lain sebagainya. Akhirnya kita bisa memiliki industri tanpa mampu menciptakan teknologi. Universitas tanpa menghasilkan pengetahuan. Anggaran pembangunan besar tanpa nilai tambah tinggi. Birokrasi besar tanpa kemampuan menyelesaikan masalah.
World Development Report 2024 menunjukkan bahwa negara berpendapatan menengah harus bergerak dari investasi menuju penguasaan teknologi dan akhirnya inovasi. Artinya bergerak dari kuantitas menuju kualitas. Dan kualitas pada akhirnya menyangkut kapabilitas manusia, teknologi, dan institusi.
Inilah persoalan dan tantangan terbesar Indonesia. Kuantitas membawa Indonesia sampai di situasi sekarang. Tetapi hanya dengan orientasi kualitas kita bisa bergerak menjadi negara maju. Jika gagal, Indonesia akan terjebak dalam Middle-Income Trap.
DARI KUANTITAS KE KUALITAS
Bagaimana kita bergeser dari budaya kuantitas ke kualitas?
Pertama, bangun meritokrasi. Budaya ABS, nepotisme, feodalisme, dan perburuan rente adalah musuh kualitas. Untuk apa mengejar kualitas kalau tanpa kualitas pun seseorang bisa mendapat jabatan, kekuasaan, dan keuntungan? Selama mediokritas masih diberi imbalan, kualitas tidak akan menjadi budaya.
Kedua, bangun critical mass manusia berkapabilitas dan berkarakter. Para intelektual, pengusaha pencipta nilai—bukan pemburu rente—inovator, profesional, dan pemikir. Kualitas tidak lahir dari mediokritas. Itu membutuhkan analisis yang rigorous, persiapan matang, kemampuan berpikir sistem dan ekosistem, serta komitmen jangka panjang. Semua itu membutuhkan manusia yang kapabel merancang dan melakukannya.
Berapa critical mass yang kita butuhkan? Menurut saya, paling tidak 10 persen penduduk. Kita masih jauh dari sana. PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia hampir tidak memiliki pelajar berusia 15 tahun yang mencapai tingkat tertinggi dalam matematika, membaca, maupun sains.
Dengan pendidikan menengah dan tinggi yang juga belum berorientasi pada kualitas, sulit berharap keadaan itu berubah secara drastis ketika mereka memasuki usia dewasa. Kita tidak kekurangan manusia. Kita kekurangan critical mass manusia berkapabilitas—dan berkarakter.
Ketiga, keteladanan harus dimulai dari atas. Kultur Indonesia masih paternalistik: pemimpin masih menjadi panutan dan menentukan standar. Kalau pemimpin mengejar angka, organisasi akan mengejar angka. Kalau pemimpin menuntut kualitas, kualitas bisa menjadi budaya.
Pergeseran dari budaya kuantitas ke kualitas karena itu tidak bisa tercapai hanya dengan sekadar regulasi. Apalagi jika regulasinya sendiri lahir dari mentalitas kuantitas: keberhasilan akhirnya diukur dari apakah regulasi sudah dibuat, bukan apakah kualitas benar-benar berubah.
Kualitas juga bukan sesuatu yang bisa diperintahkan. Itu harus menjadi standar tentang siapa yang kita pilih, apa yang kita hargai, bagaimana kita bekerja, dan bagaimana kita mengevaluasi pekerjaan kita.
(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem pembelajaran untuk mentransformasi kualitas literasi, daya nalar, dan karakter murid Indonesia).