Skip to main content

Literacy for the Future

MALNUTRISI PENGETAHUAN

Darurat Literasi dalam Pembangunan Manusia Indonesia

Elwin Tobing, California, AS

“Knowledge itself is power,” tulis Francis Bacon lebih dari empat abad lalu. Namun kekuatan itu hanya dimiliki oleh bangsa yang membangun budaya membaca, berpikir, dan belajar. Di sinilah Indonesia menghadapi apa yang saya sebut sebagai malnutrisi pengetahuan, suatu krisis kronis struktural (KKS) yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Persoalan ini jauh lebih serius daripada yang kita sadari. Bukan sekadar krisis pendidikan, melainkan KKS dalam pembangunan manusia. Hingga kini, krisis ini belum pernah ditangani secara serius, sistematis, dan dengan rasa urgensi yang memadai.

Salah satu cerminnya adalah Learning-Adjusted Years of Schooling (LAYS). Ukuran ini tidak hanya menghitung berapa lama anak bersekolah, tetapi juga berapa banyak yang benar-benar mereka pelajari. Pada 2010, LAYS Indonesia berada di angka 7,23 tahun. Tahun 2025 baru mencapai 8,35 tahun.

Artinya, selama 15 tahun, kualitas pembelajaran kita hanya meningkat sekitar 1,2 tahun ekuivalen pembelajaran. Kemajuannya ada. Namun lajunya terlalu lambat bagi negara yang bercita-cita menjadi ekonomi maju.

Angka 8,35 tahun bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan bahwa anak Indonesia menghabiskan sekitar 13 tahun di bangku sekolah, tetapi hasil belajarnya hanya setara dengan 8,35 tahun pembelajaran yang efektif.

Secara sederhana, setelah menempuh pendidikan hingga tahun pertama perguruan tinggi, kemampuan belajarnya masih mendekati siswa kelas dua SMP dalam sistem pendidikan yang berkualitas. Inilah cermin malnutrisi pengetahuan.

Keadaan ini juga tertinggal dari negara tetangga. Pada 2025, LAYS Malaysia mencapai 9,63 tahun, Vietnam 10,92 tahun, Korea Selatan 11,78 tahun, dan Singapura 13,12 tahun.

Jadi persoalan kita bukan sekadar lama sekolah. Tetapi, apakah mampu membaca, memahami, dan berpikir. Berbagai asesmen internasional menunjukkan sekitar 75–80 persen murid Indonesia masih kesulitan memahami bacaan sederhana, menarik kesimpulan, dan berpikir kritis.

Membaca bukan sekadar mata pelajaran. Membaca adalah fondasi semua pembelajaran. Anak yang tidak mampu membaca dengan baik akan kesulitan menguasai matematika, sains, teknologi, bahkan keterampilan kerja ketika dewasa.

Persoalan ini melampaui kualitas sekolah, guru, dan kurikulum. Indonesia masih menghadapi budaya membaca yang lemah serta terbatasnya akses terhadap bahan bacaan bermutu. Di banyak sekolah, perpustakaan tidak tersedia atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Di banyak rumah, buku masih menjadi barang langka.

Akibatnya, jutaan anak tumbuh (dan juga orang dewasa) tanpa kebiasaan membaca, tanpa lingkungan yang merangsang rasa ingin tahu, dan tanpa asupan pengetahuan yang memadai.

Karena itu, persoalan literasi tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan Kementerian Pendidikan atau sekolah semata. Atau masalah sepele. Ini adalah persoalan pembangunan nasional. Indonesia membutuhkan gerakan besar untuk memastikan setiap anak mampu membaca dengan baik, memiliki akses terhadap buku bermutu, dan tumbuh dalam budaya yang menghargai pengetahuan.

Ironisnya, negara mampu mengalokasikan lebih dari Rp200 triliun setiap tahun untuk Program Makan Bergizi Gratis guna mengatasi persoalan gizi, tetapi belum menunjukkan keberanian yang sama untuk mengatasi malnutrisi pengetahuan. Padahal, bangsa membutuhkan keduanya: tubuh yang sehat dan pikiran yang cerdas.

Jika krisis ini terus diabaikan, yang hilang bukan hanya potensi jutaan anak Indonesia. Yang dipertaruhkan adalah daya saing bangsa selama beberapa dekade ke depan.

Indonesia tidak akan kekurangan lulusan sekolah. Yang akan kita kekurangan adalah manusia yang mampu membaca, memahami realitas, berpikir kritis, berinovasi, dan memimpin.

(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains anak murid Indonesia).