KRISIS? APA KRISIS?
Tinggalkan sikap di atas. Mari kenali dan akui realitas buruk: Berdasarkan data nilai TKA (Tes Kemampuan Akademik) per provinsi, rata-rata nilai matematika siswa SMA hanya 30-an dari skor 100.
Ini sesungguhnya telah menjadi krisis nasional. Namun, yang mengkhawatirkan, pemerintah dan publik tampaknya belum menyikapinya sebagai sebuah krisis.
Penjelasan dari Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen atas rendahnya capaian tersebut justru menambah keprihatinan. Cara berpikir yang ditampilkan sangat linear dan terbatas, mencerminkan persoalan yang lebih mendasar: ketidakmampuan memahami bacaan.
Hasil asesmen PISA pada siswa SMP telah lama memberikan peringatan keras. Sekitar 80% siswa kelas 2–3 SMP memiliki kemampuan dasar matematika di bawah Level 2 dari skala maksimum Level 6. Dalam kemampuan membaca, angkanya tidak jauh berbeda, sekitar 75% berada pada level yang sama rendahnya.
Membaca lemah menghasilkan daya nalar yang tidak lebih baik. Itu berpusat pada kemampuan literasi.
Dan realitas pahit di tingkat SMA berawal dari jenjang SMP.
Ditarik mundur, peserta didik di SMP sejatinya adalah input dari sistem pendidikan SD.
Dan mata rantai ini terus berlanjut. Lulusan SMA ini menjadi cermin kualitas literasi penduduk dewasa Indonesia.
Jadi tingkat literasi siswa—dan masyarakat Indonesia—berada pada level yang sangat rendah. Konsekuensinya jelas: daya nalar, kemampuan berpikir kritis, dan kapasitas pengambilan keputusan juga rendah.
Ini sebuah potret yang dibentuk oleh kegagalan kita memperkuat fondasi sejak awal.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini bukan fenomena baru. Ia telah berlangsung lebih dari dua dekade. Ini bukan lagi sekadar masalah pendidikan. Ini adalah krisis struktural bangsa.
Namun, Indonesia belum memiliki sense of urgency dan sense of crisis yang sepadan dengan besarnya masalah ini.
Solusinya harus dimulai dari hal yang paling mendasar: membaca, berpikir, dan bernalar—sejak usia dini. Dimulai dari PAUD dan SD, ketika fondasi kognitif dan karakter sedang dibentuk.
Dan penyebab utama ini BUKAN karena kurang gizi.
Jika tidak, situasi ini hanya akan semakin memburuk.
Atas dasar keprihatinan dan komitmen inilah saya mengembangkan Gerakan Nasional LIFT (Literacy for the Future), dengan program utama NEXUS (Nurturing Excellence in Literacy, Science, and Character) untuk siswa Indonesia. Ini suatu program ekosistem literasi dan numerasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Krisis hanya dapat dijawab dengan langkah yang sangat serius, terarah, sistematis, serta tepat dan benar.
Namun, langkah pertama yang tidak bisa ditawar adalah ini: akui terlebih dahulu bahwa kita sedang berada dalam krisis.
(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Sudah sangat prihatin dengan kondisi pendidikan Indonesia sejak tiga dekade terakhir).